Kamis, 22 Februari 2018

Berani Melawan Begal bersama Pak Abi


Bagi saya, semua hal yang kami lakukan bukanlah prestasi. Itu semua merupakan tanggungjawab dan amanah yang kami emban sebagai aparat kepolisian.


Foto bareng dan moderator lagi-lagi ditinggalkan hiks
KALIMAT itu terus terngiang di ingatan saya. Terucap secara tulus, saya yakin ini bukan disampaikan demi pencitraan apalagi saat itu banyak awak media, blogger dan anggota komunitas.
Namun Silaturahmi Kamtibmas, Selasa 20 Februari ini menjadi saksi, betapa humble dan rendah hatinya seorang Pak Abi. Padahal dengan segala jabatan, pangkat serta tanda bintang dan anugerah yang dimilikinya (bajunya penuh tanda kehormatan gaes), ia pantas kok untuk sombong. (La wong aku saja yang menang PS, sudah berani sombong koar-koar kok). Tapi ini sebaliknya.
Dan inilah mungkin bedanya seorang Gus Wahid dan Kombes (Pol) Abioso Seno Aji, Kapolrestabes Semarang yang siang itu duduk sejajar bersamaku, bersama puluhan orang lain di aula Mapolrestabes, bersamping-sampingan dengan kami semua. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Begitu kira-kira pepatah yang pas untuk menggambarkannya (betul kan ya pepatah yang ini kan?)
Dan ya, kalimat pembuka yang disampaikan beliau di atas, juga bukan manis di mulut belaka. Sikap kenegarawan lainnya ditunjukkan saat mengajak kita semua, warga Kota Semarang, untuk berani memerangi begal. Bukan berarti menantang mereka, namun berani membela, berani berbuat, berani melawan jika suatu saat menemukan aksi begal di jalanan.
“Tabrakkan saja kendaraan kita jika nemu begal. Saya tidak akan menyalahkan kok meski menabrak karena tentunya ini merupakan bantuan bagi kami aparat Kepolisian. Sisanya, serahkan kepada kami karena kami akan menindak secara hukum sesuai aturan yang berlaku,”ujarnya tegas menyemangati
kami.

Vireo viral yang saya share ke IG lalu dilanjutkan viral di Youtube
Sikap-sikap seperti inilah yang menunjukkan kedewasaannya sebagai anggota Polri. Tekad dan sloga Polisi Sahabat Masyarakat, human policing, Polisi yang humanis, melekat kuat dalam diri Pak Abi. Tongkrongan boleh garang, wajah sangar...tapi hati syahdu (hahaha maap ya Pak)
Iya memang sebagai manusia, ia pernah berucap untuk menghalalkan penghakiman massa kepada begal yang tertangkap. Namun semua dapat dipahami bahwa itu merupakan wujud sikap empati kepada korban dan keluarga korban begal. La bayangkan saja, (ambil waktu dan nafas panjang untuk membayangkan. Awas kebayang Miyabi!! Eh...)  jika kita cuek saat melihat aksi begal dan ternyata itu adalah salah satu anggota keluarga kita, tentu sesal akan terbit kemudian di nomor tiga(karena yang terbit pertama adalah matahari lalu yang kedua adalah buku Habis Gelap Terbitlah Terang).
Perwujudan daya tangkal dan daya cegah masyarakat terhadap aksi begal merupakan kekuatan nyata untuk memerangi sekaligus mengurangi korban begal. Karenanya, pernyataan tegas nan keras Pak Abi tentang penghalalan penghakiman massa terhadap begal juga merupakan langkah untuk menekan  niat buruk para calon pembegal (begal hati masih boleh kok hihi).
Tapi...jika memang kita tidak berani bertindak melawan begal, masih ada cara praktis kok. Lapor saja ke hotline-nya Polrestabes  Semarang di 1-500092 atau di (024)8444444 (nah ini perlu dicatet ini, jangan cuma nyatet status FB aja kerjanya).
Mudah kan?? So, kenapa juga kita mencoba menolong saudara kita, yang menjadi calon korban aksi kriminalitas. Tidak perlu jadi Supermen kok untuk menolong mereka, cukup berkorban pulsa HP, dapat menyelamatkan jiwa dan harta sesama.

Ayo... berani lawan begal.

Eh eh belum kelar...karena di luar itu semua, Pak Abi juga mau membentuk Tim Buto Ijo untuk melakukan patrol siluman demi menekan angka begal ini. Jika sebelumnya sudah ada Tim Elang, kini keberadaannya akan diperkuat dengan monster baik Buto Ijo yang akan melahap genk-genk motor yang nakal membegal.
Lebih dari itu, Pak Abi juga menantang para begal motor untuk balapan motor dengannya. Karena pada masa mudanya dulu, beliau ini sangat jago balapan liar di Solo dan tergabung dalam sebuah grup jalanan. “Dan saya tidak pernah tertangkap polisi lo. Jadi kalau pas ada operasi, saya ngumpet di sela-sela truk gandeng di tengahnya. Begitu sudah lewat operasinya, saya langsung buka gas. Tidak pernah tertangkap. La kalau tertangkap, saya tentu gak bisa jadi polisi seperti sekarang ini,”tuturnya disambut gelak tawa seluruh hadirin. (ternyata Pak Abi jago ngocol juga gaes haha).
Tapi berkat semua pengalaman nakalnya di masa muda dulu, beliau jadi sangat hafal dan paham bagaimana menangani aksi begal dan kejahatan lainnya. Sumbut, kalau orang Jawa bilang.
Makanya, bagi para begal yang mungkin membaca blog ini, ada baiknya urungkan niat kalian ya gaes. Daripada nanti ditangkap Pak Polisi lo, sudah dosa, ditilang, dimasukkan penjara, salah salah malah bisa kena tembak jika Pak Polisinya terpaksa bertindak tegas. Lebih baik makan chiki yang mengandung banyak micin kok daripada jadi begal. Swear deh...
 
Sadis ya, foto moderator disabotase tidak difokus in hiks hiks. Nia jahat...
 
Kok gak ada yang pengin foto sama moderator acara ini ya? hiks hiks lagi

Pak Abi sendiri lo yang ngajak selfie dan moderator kebagian paling dekat haha mayan
Mayan ada juga fotoku (by embuh siapa)

Akhirnya aku berhasil juga mengajak mereka pakai merah kayak MU ku haha

Sabtu, 17 Februari 2018

Tahu Pong Yang Nikmatnya Tidak Zonk

Penampakan Tahu Pong yang legendaris

BERBURU kuliner khas di satu daerah, sepertinya sudah menjadi tren berwisata. Tidak saja sekedar mengobati geliat cacing perut yang kelaparan, namun sekaligus mencicipi citarasa yang hanya ada di daerah tersebut.
Begitu pula Semarang. Sebagai salah satu kota dengan umur yang cukup tua, Jekagang (nama Semarangan layaknya Dagadu yang berarti Matamu) memiliki buanyak menu-menu kuliner khas. Tapi karena saking banyaknya, gak mau klo tak sebut satu-satu. Bisa sampe Subuh nanti ngetiknya...
Dan Minggu sore, tetiba rekan saya si blogger handal Nia Nurdiansyah ditelepon untuk diajak makan makanan khas Semarang. Terpikir langsung untuk menuju kawasan Depok (yang punya Depok tidak hanya Jakarta dan Betawi saje ye), karena kebetulan Nia langsung mengajak saya beserta Isul (Ira Sulistiana).
Di sana ada warung kaki lima yang menawarkan Tahu Pong. Dulu sih pernah juga liputan di sini waktu masih jaya sebagai wartawan kuliner, tapi itu dulu...jauh sebelum saya menobatkan diri sebagai wartawan blogger haha.
Menariknya warung yang kini dikelola generasi ketiga ini adalah gerobak dan porselen yang sudah bertahan sejak generasi pertama. Padahal, warung ini lahir di tahun 1950 (bahkan nama saya-pun belum digagas oleh calon orang tua saya waktu haha. Ya iya, wong mereka juga belum lahir owk).
Gerobak dorong untuk berjualan, masih dipertahankan hingga saat ini. Hanya warna dan cat-nya saja yang diganti dan diperbaharui agar lebih kekininan dan bisa dibilang jaman now. Begitu pula dengan vas porselen untuk tempat kecap, juga masih sama dengan saat berjualan pertama kali 68 tahun lalu.
Swear ini bukan mengada-ada atau lebay bin alay untuk menaikkan rating tulisan. Nia dan Isul yang ikut nemenin Kang Pria Ramadhani makan, ikut terbelalak. Tapi ya tentu saja dicuci usai digunakan dong hehe

Dua dua usianya dua kali umur kita tuh haha

Tahu Pong menurut sejarahnya, adalah makanan peranakan. Artinya, ia lahir dari percampuran dua budaya atau lebih. Yang jelas ada perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa dan ada di Semarang karena faktanya, tidak ada tahu pong di kota lain meski warga Tionghoa kan juga tidak hanya di Semarang namun juga ada di daerah lain.
Bumbunya ternyata sederhana lo. Saya yakin, kalianpun bisa membuatnya di rumah kalau ada bahannya haha...
Untuk kuah atau saus, terdiri dari air bawang, kecap dan terasi. Kecapnya sangat istimewa karena hanya ada di Semarang dan bermerk Mirama. Kecap inipun sangat legendaris karena hampir semua warung yang menggunakan kecap di kota ini menggunakannya. Mereka dengan tegas menolak kecap-kecap bermerk ternama yang iklannya terpampang di televisi namun rasanya tidak ngalor ataupun ngulon (kata mereka lo, bukan kata saya).
Tahunya juga tahu biasa yang bisa kita dapatkan di pasar atau supermarket dengan cara membeli. Mungkin kalau tahunya didapatkan dengan cara nyolong, rasanya juga bisa beda lo karena makannya dengan bibir jontor dan gigi tanggal satu haha.
Hanya saja kini telah dikembangkan menu tambahan seperti tahu emplek, gimbal dan juga telur yang semuanya digoreng. Tahu pong sendiri biasanya di dalamnya kopong (kosong), jadi hanya kulit luarnya yang keras dan kenyal untuk kemudian dicocol dengan saus berada manis gurih tadi.
Khasnya lagi, Tahu Pong selalu disertai acar lobak dan bukan acar timun apalagi acar orang lain hihi.
Penasaran? Makanya ke Semarang karena tinggal beberapa saja penjual Tahu Pong ini dan rerata mereka sudah sepuh, sepertinya halnya Bu Sukini yang merupakan generasi ketiga dari Tahu Pong Depok ini.
Yuk ahhh, makan terus kapan ngetiknya eh kebalik

Bu Sukini, generasi ketiga Tahu Pong Depok


,   

Kamis, 15 Februari 2018

Menelusur Indah Merbabu-Merapi di Dewi Sambi


Kegilaan gembira para blogger Deswita
*
TERINGAT di tahun 2016 lalu, saya memutuskan bergabung dengan tim sepak bola PWI Jateng, bersama belasan rekan wartan lain. Di bawah asuhan tangan dingin pelatih nasional Sartono Anwar, kami digembleng dua pekan sekali.
Sebelum game atau sparring dengan tim lain, kami diberi materi increasing. Kami diminta lari mengelilingi lapangan tiga kali.
Simpel memang. Tapi di jarak lapangan terpendek, harus sprint, sementara di panjang lapangan kami diwajibkan jogging, lalu persis di sudut lapangan mulai meningkatkan speed.
Di sesi increasing lainnya, lapangan dibagi menjadi seperempat, diberi cone dan kami wajib lari sesuai titik yang ditentukan dengan sesekali sprint, sekali lainnya cukup jogging namun tetap tidak boleh berhenti.
Pada pertemuan berikutnya dan setiap kali pemanasan, ada kala kami harus sprint 20 persen, meningkat 40 persen, lalu  60 persen. Cukuplah maksimal 60 persen demi menyesuaikan fisik dan stamina para wartawan yang rerata merokok dan suka begadang (sebuah hal yang pantang dilakukan atlet bola).
**
MENERIMA tawaran FK Deswita (Forum Komunikasi Desa Wisata) se-Jateng untuk ngetrip di sela pertemuan rutin 3 bulanan mereka, membawa konsekuensi kami berdelapan -para blogger- nginep di tempat yang dingin. Lokasi pertemuan di Samiran, Selo, Boyolali, berada di punggung selatan Gunung Merbabu, berhadapan langsung dengan Gunung Merapi.
Kira-kira berada di ketinggian 1.000 mdpl, begitu masuk wilayah yang dikenal sebagai Dewi Sambi (Desa Wisata Samiran-Boyolali), tulang serasa tertusuk. Dingin langsung menyergap, apalagi kami berombongan sampai saat petang tiba, kala dimana para monster kabut menyelimuti.
Puncak Merapi yang malu disaput kabut.

Belum lagi salah jalan yang kami ambil karena Nia yang sok tahu –maklum dia adalah navigator yang ternyata patut dipertanyakan kapabilitasnya haha-, membuat seolah perjalanan kami begitu mencekam. Jalan setapak yang kami tempuh, beradu punggung dengan tebing sementara di sisi kirinya adalah jurang yang tersapu kabut.
Namun ternyata, jalan melingkar inilah yang ternyata membawa kami trekking ke Bukit Gancik keesokan harinya. Dan ternyata di siang bolong, pemandangan luar biasa kami dapatkan. Berbeda 181 derajad dengan suasana petang sebelumnya.
Eitt...sebelum trekking, kami harus menginap dulu di salah satu homestay bertajuk Rhodeo. Menariknya, semua homestay di sini sudah memiliki nama dan seragam papan penunjuknya, lengkap dengan lampu penerang jalan yang juga senada.
Harganya murah, hanya Rp35 ribu per orang tanpa sarapan. Jika menghendaki sarapan, cukup menambah Rp10 ribu per orang, dengan fasilitas bed matras, selimut tebal, teh or kopi panas sesuai selera dan tentu saja sanyaum ramah khas warga desa. (Beruntung si ibu tempat saya menginap tidak memiliki anak gadis yang manis haha).
Tapi sayangnya, citra diri saya sebagai manusia yang malas mandi di tempat dingin, kembali teruji. ‘Air es’ yang ditaruh di dalam bak mandi (saya pikir, pemilik rumah memiliki kulkas raksasa yang memproduksi air es dalam jumlah banyak untuk kemudian ditampung di bak mandi, serupa dengan alat pemanas air hihi), jauh membuat keinginan saya untuk bersua dengan yang namanya air ini.
Kembali ke urusan trekking, seluruh rombongan dibawa menuju Bukit Gancik dengan mobil bak terbuka. Sengaja memang sepertinya karena seperti yang saya bilang di atas, wisawatan akan disuguhi pemandangan luar biasa indah dimana di depan adalah warna hijau segar pepohonan di Gunung Merbabu, sementara di belakang nampak biru pongah si Merapi. Ditunjang dengan warna langit yang masih biru segar, membuat kami tergila-gila untuk bersyukur atas karunia keindahan alam ini.
Pajero: Panas Njobo Njero

Nah di sinilah korelasi increasing dan trekking ke Gancik. Begitu turun dari Pajero yang membawa kami, jalur trek menanjak sudah menanti. Melintasi kebun sayur warga, kelok jalan menuju puncak, samar terlihat. Kerumunan peserta trip, lama kelamaan menipis seiring dengan keengganan untuk meniti jalan menuju puncak yang kabarnya mencapai 800 meter dengan elevasi 20-30 derajad.
Dengan pola increasing-nya Sartono Anwar, saya coba terapkan untuk mendaki jalan setapak ini. Rekan blogger yang lain jelas sudah tertinggal separuh jalan –saya tahu, mereka pura-pura memotret keindahan Merapi di pagi hari, namun sejujurnya mereka mengulur waktu untuk beristirahat haha-. Dan terbukti, finish di empat besar hingga Puncak Gancik, member saya waktu lebih untuk mencari angle terbaik mumpung puncak Merapi di kejauhan belum ditutup di monster kabut. Inilah untungnya jika jalan lebih cepat, bisa memiliki suasana berbeda yang tidak dimiliki pemotret lain (sebenarnya ini juga alasan saya saja karena pada faktanya, nafas saya juga masih tersengal, lalu duduk nglemprak di jalanan).
 Eh eh no no...tidak tidak tidakkk. La wong nafas saja belum ngumpul sempurna, sudah banyak peserta lain yang juga smapai di 'garis finish' ini. Apa kata dunia dengan segala increasing ini? Wooo...ternyata mereka naik Gocek, ojek khusus kawasan Gancik dengan tarif 10 ribu per trip baik naik atau turun, ya pantes mereka bisa menyusul saya. Ah sudah ah foto foto dulu aja..
Warga pencari rumput beralih profesi jadi Gocek jika ada wisatawan. Ini tanjakan terakhir lo gaes hossh hosshh

***
TURUN dari Gancik, masih sama dengan fasilitas mobil Pajero, kami disambut Pasar Tiban Koin Bathok. Sama dengan konsep Pasar Papringan (baca juga: http://guswahidunited.blogspot.co.id/2017/12/pasar-papringan-dan-power-of.html), di sini juga mulai diberdayakan warga sekitar.
Bu Suminem yang semula hanya petani dan pencari rumput untuk dua ekor sapinya, setiap akhir pekan menjelma sebagai penjual nasi pecel dan mie serta gorengan. Begitu pula Mbak Tum yang awalnya hanya membantu suaminya berjualan Ketan Santen di pasar, mulai ber-ekspansi membuka dasaran di Pasar Tiban.
Dawet santan penunda lapar

"Lumayan mas, bisa dapat uang tambahan Rp200 ribu jika ada tamu seperti ini. Daripada cuma nyari rumput buat sapi," tutur Suminem lugu.
Dan ya, mata uang dari bathok kelapa menjadi satu-satunya alat tukar yang berlaku di sini. Uang Rp2000 kita, dihargai 1 bathok yang dapat ditukar dengan soto, bakso, jadah bakar atau aneka rupa makanan tradisional lainnya.
Eh tapi..."Tum, iki lo yen pengin mangan mie, njupuke dewe (Tum, kalau mau makan mie, ambil saja sendiri sesukanya)," sergah mbah Suminem kepada Mbak Tum. Haha sepertinya, sistem barter masih berlaku pula di sini, tapi hanya khusus antar pedagang lo ya.


****

KEMBALI menaiki Pajero, kami dibawa ke destinasi berikutnya, Alam Sutera. Cukup penasaran memang mendengar namanya, dalam benak terpikir sebuah kawasan pemukiman modern kayak di ibukota haha.
Nyatanya, kami harus kembali melakukan soft trekking namun dengan suguhan pemandangan berbeda. Kali ini kami mendaki punggung Gunung Merapi dengan pemandangan terhampar di belakang adalah Gunung Merbabu. Kebalikannya dengan trekking ke Gancik di awal.
Di sini, kami dijamu sebuah jembatan bambu sepanjang kurang lebih 100 meter, sebuah spot foto yang dapat menambah konten instagram tentu saja. Kembali ke tujuan utama, jalur trekking sekitar 500 meter, dua buah tugu besar dari bambu dan kayu menyambut kami semua.



Sekilas bentuknya mirip dengan Menara Eiffel yang juga dapat dinaiki hingga ke puncak. Lagi-lagi auto fokus kamera harus bekerja membidik aktivitas gokil rekan-rekan yang sepertinya gila akan alam hijau tanpa polusi bahkan micin seperti ini.
Tapi satu hal, karena tersusun dari bambu dan kayu, pengunjung yang naik ke menara harus berhati-hati karena akibat dimakan usia serta cuaca, beberapa kayu telah lapuk. Selain itu karena berada di lereng gunung, angin yang menghembusnya juga cukup kencang, sehingga terasa sekali goyangan di atas menara.
Sedikit saran sih bagi teman-teman pengelola destinasi serupa, bahwa ada baiknya spot semacam ini terus diinovasi agar pengunjung mau kembali kedua hingga kelima kalinya. Pasalnya jika hanya satu tema, saya kurang yakin pengunjung mau kembali kali kedua. Selain itu juga perlu adanya perawatan terkait kondisi kayu/bambu penyusun kerangkanya demi keamanan bersama.

*****
JADI begitu sekiranya perjalanan famtrip berama rekan-rekan Deswita kali ini. Di luar itu semua, kami para blogger menjadi tertantang untuk mengawal FK Deswita sekaligus membantuk komunitas blogger yang suka ngetrip ke desa wisata. Mau ikut? Ganti baju dulu ya, jangan lupa mandi hahahah...

Anak papah sama mamah pada mlongo ya hehe

Baca juga ya:
- http://mechtadeera.com/2018/02/11/berkunjung-ke-dewi-sambi-1-gancik-hills-top/
- http://jejakjelata.com/2018/02/rute-angkutan-umum-menuju-selo-boyolali/

Kamis, 08 Februari 2018

Satpol PP Kota Semarang: Patroli dengan Segway (Pertama di Jateng)

Patroli Satpol dengan Segway
JIKAbiasanya kita mendapati sosok Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang melakukan patroli dengan truk bak terbuka, kali ini kita akan mendapati anggota yang berpatroli dengan unik. Mereka tidak mengendarai kendaraan namun menggunakan alat yang cukup canggih.
Bahkan terkesan apa yang mereka lakukan layaknya anak-anak sedang bermain. Ya, mulai 2018 ini, kita akan menemui anggota Satpol PP yang berpatroli mengendarai segway, sebuah kendaraan beroda dua yang dikendalikan dengan keseimbangan badan.
Menurut Kabid Tramtibum Satpol PP Titis, pihaknya memiliki 8 armada segway. Gunanya adalah untuk melakukan patroli di pedestrian.
"Kami sering mendapati fungsi pedestrian yang berubah dari untuk pejalan kaki menjadi tempat parkir kendaraan atau juga untuk PKL. Dengan menggunakan segway, akan memudahkan anggota untuk berpatroli. Ini yang pertama di Jateng bahkan mungkin di Indonesia lo," terangnya.



Dijelaskan, alat ini dibiayai dari APBD 2017 dengan nilai masing-masing sekitar Rp25 juta. Pada tahap awal, anggota baru akan melakukan patroli di pedestrian jalan-jalan protokol seperti Pemuda dan Imam Bonjol.
Diakui, di jalan-jalan tersebut cukup banyak pengojek online yang ngetem menunggu penumpang di atas pedestrian. Padahal semestinya, pedestrian merupakan hak pejalan kaki sehingga harus bebas dari penghalang apapun.
"Dengan segway, akan memudahkan anggota dalam berpatroli karena bisa bermanuver di sela-sela pembatas. Selain itu juga bisa zigzag dan ramah lingkungan karena bertenaga materai bukan BBM," tukasnya.

Salah satu anggota patroli pedestrian Suprapto menambahkan jika segway memiliki kecepatan sekitar 30-40 Km/jam. Kendaraan ini sangat cocok untuk melakukan patroli penertiban di trotoar.
"Sayangnya, daya tahan baterainya hanya sekitar 1,5 jam sehingga kami harus membawa carger. Jika baterai habis, kami buru-buru kembali ke pos di Balaikota," tuturnya.
Anggota lain, Aprilia Ayu mengaku cukup lama belajar mengendarai segway ini. Ia butuh waktu hampir sepekan untuk benar-benar dapat mengendalikan alat ini sekaligus belajar bermanuver di sela-sela pembatas trotoar.
"Asyik. Kami berasa bekerja sambil bermain namun tetap tidak boleh melupakan kerja utama kami yakni menjaga agar trotoar bersih dari kendaraan parkir atau PKL," tandasnya. 


Kamis, 01 Februari 2018

Mode Fighting ML 5v5 Demi Menuju Indonesia Maju

Bekal jurus kreativitas kebangsaan nih

BERKESEMPATAN mengikuti Flash Blogging yang diselenggarakan Kominfo RI, sungguh membahagiakan. Bagaimana tidak? Selain mendapatkan aneka rupa ilmu untuk ngeblog yang tentunya makin meng-upgrade kemampuan, juga menambah amunisi pertemanan.
Paparan dari narasumber juga semakin meningkatkan kemampuan ability  (haha kayak main hero di Mobile Legend ya). Makin diisi, levelnya juga semakin naik, gitu kira-kira…
Eh btw, ngomongin soal tema Menuju Indonesia Maju di flash blogging ini memang mirip game Mobile Legend (ML) yang sedang hits ini. Kok bisa? Dimana letak korelasinya?
Hehe jadi gini…setahun lalu kan juga ada flash blogging bahkan dihadiri oleh Menkominfo Rudi Antara, di Santika Premiere juga. Meski saat itu lebih sedikit pesertanya, namun bobot kualitasnya tidak kalah.
Pembicaranya waktu itu adalah Ketua Pusat Studi Pancasila UGM Dr Heri Santosa dan Ndoro Kakung, yang tentunya nama besarnya tidak perlu lagi saya sampaikan di sini. Membekali kami dengan berbagai ‘mana’ (jurus rahasia di ML), membuat kiprah kami semua semakin matang. Ya anggaplah saat itu kami masih ranum lalu diberi ilmu sedikit, dipoles lalu menjadi agak matang.
Dan kembali ketika flash blogging hadir kali ini, kesempatan nambah ‘mana’ datang lagi. Bagaimana tidak, dua pembicara yang handal kembali dihadirkan. Wartawan senior dari Suara Merdeka Anto Prabowo memberikan bekal bahwa menulis adalah pejuang.
Tentunya berjuang dalam hal ini adalah demi membangu Indonesia yang lebih maju. Bahwa harus disadari era pemerintahan Jokowi membawa segala perubahan baik di negeri ini, yang sudah baik menjadi lebih baik lagi dan seterusnya.
Sebuah semangat untuk menjadikan Indonesia melompat jauh dari segala tatanan yang sudah ada selama 70 tahun lebih negeri ini merdeka. Berbagai hal buruk yang sebelumnya ada, mulai diperbaiki sedikit demi sedikit. Lagi-lagi, ini mirip Mobile Legend yang terus berbenah mendandani ‘bug’.
Bekal kreativitas yang disampaikannya, menjadi jurus pertama memperbaiki kualitas tulisan kami. Menepis hoax lalu menjadi jurus kedua yang dapat kami keluarkan sebelum mengeluarkan jurus utama, jurus ulti untuk meng-kill musuh.
Lalu pembicara Andoko Darta yang merupakan Tim Komunikasi Presiden, benar-benar memberikan jurus utama itu tadi. Namun tentu semua ‘jurus mana’ di Mobile Legend tidak akan dapat digunakan optimal jika bermain sendiri.

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia by Sukardi Rinakit

Mode fighting 5 versus 5 mengajarkan kepada kita semua arti kebersamaan dan kerjasama. Setinggi apapun level game seorang blogger, jika ia hanya bertindak sendirian, tidak aka nada artinya. Semua harus dilakukan secara gotong royong, bantu membantu, menyerang bersama (menyerang Hoax dalam konteks ini) dari segala lini.
Begitu pula pemerintah tidak dapat membangun Indonesia lebih maju tanpa bantuan, kerjasama dari masyarakat. Setinggi apapun level game Presiden Jokowi dalam membangun Indonesia, tanpa peran serta aktif positif pilar-pilar kebangsaan lainnya, tak akan pernah ada artinya.
Dan blogger sebegai elemen kelima bersama kalangan jurnalis, memiliki peran besar merubah tatanan hidup dan arah kemana bangsa ini akan dibawa. Jika masih saja ada blogger yang menyebarkan berita hoax, niscaya sia-sia semua capaian level tertinggi, pengumpulan ‘mana’ hingga ramuan spell untuk memenangkan pertempuran.
Jadi tidak cukup bekal, jurus, spell, emblem hingga gear pertempuran tanpa ada kerjasama antar pemainnya. Hero terbaikpun dengan level paling dewapun tidak dapat menyelesaikan pertandingan dengan hasil victory tanpa didukung empat pemain lainnya.   
So, mari kita kumpulkan semua ability untuk menulis (layaknya mengumpulkan ability dalam game Mobile Legend) untuk menjadi yang terbaik. Bersama memerangi hoax sesuai kiprah penulis demi menuju Indonesia yang lebih maju.
Blogger pariwisata menggambarkan destinasi yang elok, blogger lifestyle tidak menyebarkan budaya yang kurang berkenan di timur. Lalu blogger teknologi juga menyampaikan tulisan yang positif…begitu seterusnya. Toh cukup banyak tema bidang blogging yang bisa kita maksimalkan.
Dan yakin deh, setelah ini bisa mencapai level game 15 (level tertinggi dari ML) hehe sok pede…

Biar jomblo, tapi serius dengerin paparan demi dapat jodoh eh demi Indonesia Maju

Hadiah payung menghujani flash blogging kali ini hihi


Rabu, 24 Januari 2018

Lunpia Cik Meme: Cara Beda Menikmati Lunpia



SEJAK lama, saya memproklamirkan diri tidak menyukai yang namanya lunpia. Aroma rebung yang sangat kuat dan terkesan pesing, membuat saya menjauhi makanan yang satu ini.
Namun semua berbeda ketika di awal 2014, saya berkenalan dengan Cik Meme. Bersama duo kriwul alm Pasha dan Athier, saya datang untuk berbincang di toko Lunpia Delight kala itu. Dan tentu saja suguhannya adalah lunpia (saya sudah bayangin tidak akan menyantap makanan satu itu, atau setidaknya menyantap untuk melegakan sang tuan rumah).
Di sana, Cik Meme sudah meyakinkan bahwa lunpia buatannya tidak akan beraroma kuat. Sedikit memaksa, saya dimintanya menjajal satu potong. Hemm...enak juga, bau pesingnya sudah tak ada lagi.
Tapi saya rasa saya cukup makan satu potong kecil saja. Saya terlalu tangguh untuk meluruhkan prinsip bahwa saya tak akan makan lunpia, sementara duo kriwul malah minta nambah...duh Gustiiii aku isin anakku mangane akeh hehe.
***
Waku berlalu...berselang empat tahun kemudian, saya berkesempatan menjajal kembali lunpia yang sudah berganti branding menjadi Lunpia Cik Meme ini. Pasalnya nama Lunpia Delight dinilai kebarat-baratan, sementara jajanan endess ini asli Semarang dan memiliki citarasa yang sangat lokal sekali. Wagu kan klo namanya barat dan inggris-inggrisan haha.
Dan terbukti, Sabtu siang 20 Januari lalu menjadi momentum luar biasa bagi saya. Satu potong full lunpia Raja Nusantara habis saya santap. Dan belum cukup, sisa potongan lunpia lainnya di meja, masih saya embat. Entahlah, rasa lapar dan penasaran ketiadaan aroma pesing, menjadikan napsu makan saya kalap.
Eitt tapi tunggu dulu, sesuai judulnya, saya kini memiliki cara berbeda menikmati lunpia. Jika dulu saya hanya menggigitnya bersama ceplusan rawit dan acara, kini sungguh berbeda.
Pertama saya gigit besar-besar potongan lumpia setelah dioles dibumbu saus manis, agar semua bahan racikan teramu sukses di mulut. Sebelum benar-benar lumer, saya ambil daun bawang merah yang tersedia sebagai lalapan (daun bawang merah lo bukan daun bawang putih atau yang biasa kita kenal sebagai onclang)...ceplussss, uenaakkkk. Baru kemudian saya gigit lombok rawitnya disusul acar timun.
Nah ini baru pas...

Pake makan lunpia dengan cara saya...asssoooyy

Saya ulang di potongan berikutnya hingga tak sadar satu potong full lunpia sudah berpindah ke perut yang mulai membuncit. Sesadar itu pula, ternyata ada enam varian rasa berbeda yang dihadirkan Cik Meme sebagai pelengkap jajanan khas Semarang ini.
Mulai dari yang Plain, Original, Fish Kakap, Kajamu (Kambing Jantan Muda) dan Raja Nusantara (Rasa Jamur Nusantara). Sayangnya, akibat napsu yang terlalu liar, saya malah lupa mencicipi si Kajamu. Tapi setidaknya, ini bisa jadi alasan bagi saya untuk kembali datang ke Lunpia Cik Meme di Jalan Gajah Mada 107 dan menjajal Kajamu hahaha
Sukur-sukur dikasih kesempatan lagi foto berdua sama sang empunya hehe modus...

Bukan saya lo yang minta foto, tapi Cik Meme hehe
***

Swear...ini bukan testimoni. Ini juga bukan blog berbayar tapi murni sebuah pengalaman yang ingin saya bagi. Jikapun memiliki sejarah kelam makan lunpia yang menyisakan bau-bau pesing, jangan ragu datang dan mencoba lunpia Cik Meme. Ya setidaknya kunjungi dulu laman-laman kesaksian di https://lunpiacikmeme.com eit tapi ajak-ajak saya ya klo kesana, dijamin parkir gratis deh haha
Nah makanya, saya tidak akan mengekspos lagi racikan enam varian rasanya karena di sana ... di web itu sudah ada semua. Pokoknya, jangan ragu coba cara baru menikmati lunpia yang pasti akan membuat kita semua ketagihan.

Ngiler apa ngeces tuh...

Nah ini nih testimoni dari para tokoh.


Sabtu, 30 Desember 2017

Oudestad: Harmonisasi Kulineri Diantara ‘Gedung-Gedung Tinggi’

Oudestad: makan n nongkrong asyik di depan gedung-gedung tua di Kota Lama

KOTA Lama di sudut utara Semarang sudah menjadi ikon. Tidak saja karena kawasan ini penuh dengan gedung-gedung tua bersejarah yang masuk dalam Bangunan Cagar Budaya (BCB).
Berbekal itu pula, kawasan seluas total 40 hektar itu kini dalam perjalanannya diakui dunia melalui Unesco menjadi World Heritage 2020. Berbagai upaya dilakukan Pemkot Semarang dan Badan Promosi Kawasan Kota Lama (BPK2L) untuk menata, memperbaiki sekaligus mengelola kawasan yang instagramable banget ini.
Sudah sejak lama saya mengidamkan bisa ngopi santai atau makan cemilan bahkan mie ayam di sela naungan gedung-gedung pencakar langit (200 tahun lalu tapi ya). Tidak saja bayangan indah dapat makan enak, namun juga makan di antara kepungan gedung-gedung bersejarah.
Bagi saya pribadi, memajukan meramaikan Kota Lama sebagai destinasi wisata unggulan di Semarang, mutlak adanya. Semutlak aku mencintaimu yang tak bisa lagi diganggu-ganggu hehe
Dan gayung bersambut. BPK2L menggandeng Kadin serta BPR MAA mewujudkan mimpi saya dan mungkin mimpi-mimpi ribuan pengunjung Kota Lama lainnya, dapat berburu kuliner dan menikmatinya di bawah temaram bulan dalam kepungan gedung-gedung bersejarah.
Ketua Kadin Arnaz Agung Andrasamara yang sahabat saya (ngaku-ngaku sahabat haha)

Sayapun merasakan aura kembali ke era VOC. Suasana makan yang temaram, ditunjang dengan obrolan hangat bersama rekan, semakin membuat hati tentram.
Penginnya (saya lagi-lagi membayangkan), hidangan makan di tengah Jalan Sendowo yang disulap jadi kuliner jalanan, dilayani oleh nonik-nonik Belanda. Lalu ada hilir mudik kalangan pribumi atau menir Belanda menuntun sepeda.
Ah memang bayangan saya terlalu muluk, meski bisa saja diwujudkan oleh penyelenggara. Sehingga setidaknya, tidak hanya kata Oudestad saja yang terasa membawa kita ke era Belanda kala itu, namun juga ditunjang dengan tatapan sejarah dua gedung milik PT Phapros dan PT Perkebunan sebagai latarnya.
Gak lagi muncul kesan angker to nda klo kayak gini

Kuliner jalanan sendiri di Semarang bukanlah hal baru. Beberapa tahun sebelumnya hingga saat ini, di Pecinan sudah ada Pasar Semawis di Gang Warung. Bahkan pendahulunya yakni Kya Kya Kembang Jepon, sudah lebih dulu tamat ceritanya.
Dan tentu saja kita semua berharap Oudestad terus berkembang besar. Tidak saja mampu memancing wisatawan dan warga local untuk berdatangan dan memburu kuliner, namun juga demi tujuan yang lebih besar, menuju pengakuan sebagai Kota Warisan Budaya dunia.
Dengan semakin banyaknya atraksi di Kota Lama, kita optimis kok, kawasan ini akan mendapat restu Unesco. Namun tentunya kita semua sebagai warga harus ikut berjuang, setidaknya ikut meramaikan, menambah daya tarik hingga memunculkan event yang unik, kreatif dan inovatif.


Makan di tengah gedung tua, ditambah pemandangan bening nan kreatif, fashion show.

Oudestad tentu saja merupakan oase di tengah tantangan tersebut. Sebuah mata air pencerahan lahirnya destinasi wisata baru untuk memperkuat ikoniknya Kota Lama.
Oudestad tentunya menjadi sebuah kesegaran di antara gedung-gedung tua yang sudah mulai nampak muda dengan perawatan dan sentuhan ‘magis’ keinginan kuat membawa Kota Lama lahir kembali dan menjadi pusat perhatian dunia.
Siapa sih yang gak kepingin melihat Semarang jadi centre of focus, jadi tujuan wisata yang nantinya memiliki efek domino meningkatnya ekonomi warga? Hayo ngacung yang gak pengin (habis ngacung terus mau diapain?)!!

Semoga, semua niatan apik ini mendapat jalan mudah semudah membuka kulit durian demi menikmati legitnya daging buah. Aamiin ...